Menganalisis Indeks Harga Saham, Perhitungan Harga Saham, Metode Perhitungan Indeks, LQ 45 Indeks, Indeks Review and Stock Replacement, Advisory Comission, Perhitungan Angka Indeks Harga Saham
Assalamualaikum kawan-kawan.....
kali ini saya akan membahas tentang "Indeks Harga Saham, bagaimana perhitungannya, metode perhitungannya, LQ 45 Indeks, Indeks Review and Stock Replacement, Advisory Comission, dan Perhitungan Indeks Harga Saham".
1. Indeks
Harga Saham
Indeks
harga saham merupakan indikator yang menggambarkan pergerakan harga saham dalam
suatu periode. Dengan membaca indeks ini, kita dapat mengetahui tren yang
sedang terjadi di pasar, apakah sedang naik, turun, atau stabil sehingga
investor dapat menentukan kapan untuk menjual, menahan atau membeli saham.
2.
Perhitungan
Harga Saham
Ada 4 rumus menghitung harga saham yakni
sebagai berikut :
a)
PBV (Price to Book Value
Ratio)
PBV
(Price to Book Value Ratio) atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Rasio
Harga terhadap Nilai Buku digunakan untuk membandingkan kapitalisasi pasar
perusahaan dengan nilai bukunya sendiri (perusahaan). Rasio PBV memberikan
gambaran berapa banyak pemegang saham yang membiayai aset bersih perusahaan.
Nilai
Buku ini adalah nilai aset perusahaan yang tercantum dalam laporan keuangan
atau Balance Sheet dan dihitung dengan cara mengurangkan kewajiban perusahaan
dari asetnya (Nilai Buku = Aktiva – Kewajiban). Bisa dikatakan rasio ini dapat
menunjukan apa saja yang akan diperoleh pemegang saham setelah perusahaan
terjual dan hutangnya semua telah dilunasi.
Pada
umumnya Jika nilai BVPS di atas nilai 1, kesimpulannya harga saham tersebut
terbilang mahal, begitupun sebaliknya. Berikut rumus harga saham berdasarkan
rasio ini :
Price
to Book Value = Harga per Lembar Saham / Nilai Buku per lembar Saham atau dalam
bahasa Inggris : Price to Book Value (PBV) = Stock Price per Share / Book Value
Per Share.
Contoh Perhitungan PBV (Price to Book Value Ratio) :
Harga
per lembar saham Bank Negara Indonesia Tbk dengan kode emiten BBNI tanggal 05
Desember 2017 sebesar Rp2.760 sedangkan nilai Buku per lembar saham sebesar
Rp1.954. Berikut perhitungan rasio PBV BBNI:
PBV (Price to Book
Value Ratio) = Harga per Lembar Saham / Nilai Buku per lembar Saham
=
Rp2.760 / Rp1.954, = 1,41
Jadi PBV (Price to
Book Value Ratio) Bank Negara Indonesia Tbk adalah sebesar 1,41 kali.
b)
PER (Price to Earnings Ratio)
PER
(Price to Earnings Ratio) adalah rasio untuk menilai perusahaan yang diukur
dari harga saham saat ini terhadap pendapatan per-sahamnya (EPS).
Biasanya
digunakan oleh investor dan analis untuk menentukan nilai relatif dari saham
perusahaan dalam perbandingan apple to apple. Selain itu dapat digunakan untuk
membandingkan perusahaan dengan catatan sejarahnya sendiri atau untuk
membandingkan pasar agregat satu sama lain atau dari waktu ke waktu.
Jika
nilai rasio PER lebih tinggi menunjukkan bahwa pasar bersedia membayar lebih
terhadap pendapatan atau laba suatu perusahaan, serta memiliki harapan yang
tinggi terhadap masa depan perusahaan tersebut sehingga bersedia untuk
menghargainya dengan harga yang lebih tinggi.
Di
sisi lain, rasio PER yang lebih rendah menggambarkan bahwa pasar tidak cukup
percaya terhadap masa depan saham perusahaan yang bersangkutan. Ini rumus harga
saham berdasarkan rasio Price to Earnings Ratio (PER) = Harga Saham / Laba per
Saham
Contoh Perhitungan Price To Earning Ratio
(PER) :
Harga per lembar
saham perusahaan A adalah Rp500 dengan rasio EPS sebesar Rp20. Maka Rasio
PER-nya adalah Rp500/Rp20 = Rp25. Ini menandakan bahwa Investor bersedia untuk
membayar Rp25 untuk setiap Rp1 pendapatan perusahaan.
c)
PEG Ratio (Price Earning Growth Ratio)
PEG
Ratio (Price Earning Growth Ratio) adalah rasio yang menghitung nilai saham
berdasarkan pendapatan saat ini dan potensi pertumbuhannya di masa yang akan
datang.
Bisa
dikatakan rasio ini banyak digunakan oleh investor untuk mengetahui apakah
saham yang diliriknya tengah berada di atas atau di bawah harga, dengan
mempertimbangkan pendapatan saat ini dengan tingkat pertumbuhan yang akan
dicapai oleh perusahaan pada masa yang akan datang.
Rasio
ini digunakan dengan cara membandingkan antara harga dengan pertumbuhan laba.
Rasio ini memperhatikan pertumbuhan laba suatu perusahaan secara historis.
Cara
melakukan perhitungannya adalah membagi PER dengan pertumbuhan laba dalam satu
tahun. Makin rendah hasil rasio PEG maka akan semakin baik peluang harga saham
tersebut akan meningkat di masa mendatang.
Untuk menghitung
PEG (Price/Earnings to Growth Ratio) kamu bisa menggunakan rumus:
PEG = PER / Pertumbuhan EPS Tahunan.
PER (Price per
Earning Ratio) adalah Rasio Harga terhadap Pendapatan dan EPS (Earning per
Share) adalah laba per lembar saham.
Contoh Perhitungan PEG (Price/Earning to
Growth Ratio) :
Untuk mendapatkan
nilai PEG, kamu sebelumnya harus menghitung nilas EPS terlebih dahulu, begini
contoh perhitungannnya
Pada tanggal 23
November 2017, PER (Price Earning Ratio) PT. Elnusa Tbk (ELSA) sebesar 17,93.
EPS (Earning per Share) pada tahun 2016 adalah sebesar Rp192 dan tahun 2017
adalah sebesar Rp327.
Pertumbuhan EPS =
EPS 2017 – EPS 2016 (Rp237 – Rp192)/Rp237
= (Rp45/Rp237)
= 0.23 atau
23%.
Setelah
mendapatkan Pertumbuhan EPS, maka kamu masukkan ke rumus PEG sebagai berikut:
= 17,93 / 23% =
76,5%
Jadi PEG untuk PT.
Elnusa Tbk (ELSA) sebesar 76,5% atau 0,765.
d
)Dividen Yield
Dividen
Yield adalah metode untuk mengukur jumlah arus kas yang kamu dapatkan untuk
setiap rupiah yang kamu investasikan dalam pasar ekuitas. Dengan kata lain, ini
adalah ukuran berapa banyak uang yang kamu dapatkan dari dividen. Dividend
Yield pada dasarnya adalah pengembalian investasi untuk saham tanpa capital
gain.
Kamu
perlu untuk memerhatikan konsistensi suatu perusahaan dalam memberikan dividen.
Jika perusahaan tersebut secara konsisten membagikan dividen dalam 10 tahun
terakhir maka bisa dikatakan saham perusahaan tersebut layak untuk dibeli.
Biasanya
makin tinggi Dividen Yield maka saham tersebut makin menarik, namun konsistensi
sebuah perusahaan dalam membagikan dividen juga perlu diperhatikan. Berikut
rumus harga saham berdasarkan Dividend Yield, dan contoh perhitungannya:
Per
tanggal 07 November 2017, Harga per lembar saham PT. CIMB Niaga Tbk (BNGA)
diperdagangkan sebesar Rp16.200, sedangkan pada tahun 2017 dividen per lembar
saham tahunan yang dibagikan sebesar Rp428.
Dividend Yield =
(Dividen per lembar Saham Tahunan / Nilai Pasar per lembar Saham) x 100
= (Rp428 /
Rp16.200) x 100 = 2,64%
Jadi dividen PT
CIMB Niaga Tbk (BNGA) adalah sebesar 2,64%
.
Ketahuilah bahwa
harga nominal saham tidak memberikan petunjuk apakah berinvestasi di perusahaan
tersebut merupakan keputusan yang paling tepat, atau apakah nilai perusahaan
ini yang terlalu tinggi. Jadi, gunakanlah keempat rumus harga saham tersebut
untuk kamu jadikan acuan dalam menilai harga saham murah atau mahal.
3.
Metode Perhitungan Indexs
Secara umum, rumus
menghitung indeks harga terbagi menjadi 2. Pertama, ada metode agregatif
sederhana atau tidak tertimbang, dan kedua yakni metode tertimbang. Nah, dalam
metode tertimbang itu terbagi lagi menjadi 3 metode, Squad. Ada Metode
Laspeyres, Metode Paasche, dan Metode Marshall Edgeworth.
a)
Metode Agregatif
Seluruh harga
dalam tahun tertentu, dinyatakan sebagai persentasi dari keseluruhan harga
komoditas dalam satu tahun. Kamu bisa melakukan perbandingan perubahan harga
rata-rata pada tahun tertentu terhadap harga pada tahun-tahun sebelumnya. Nah,
harga pada tahun sebelumnya itu dijadikan sebagai tahun dasar.
Perhitungan
angka indeks dengan metode agregatif sederhana mempunyai kelebihan karena
bersifat sederhana sehingga lebih mudah menghitungnya. Akan tetapi, metode ini
mempunyai kelemahan yaitu tidak mempertimbangkan arti penting secara relatif
berbagai komoditas sehingga barang-barang kebutuhan pokok memiliki bobot yang
sama dengan barang yang lain. Padahal, barang-barang kebutuhan pokok akan
direspon lebih oleh konsumen dibandingkan dengan barang-barang jenis lain.
b)Metode
Tertimbang
Metode
sebelumnya yang punya kelemahan karena adanya penggabungan harga barang,
padahal ya barang-barang yang dihitung itu kan punya karakteristiknya. Dalam
metode tertimbang ini, kita akan masukkan faktor penimbang/bobot dari tiap
jenis barang yang dihitung angka indeksnya. Seperti yang udah dijelaskan di
awal, metode tertimbang ini terdiri dari 3 metode, yaitu sebagai berikut:
a.
Metode Laspeyres
Metode ini
menerapkan jumlah barang pada tahun dasar menjadi timbangan terhadap suatu
harga. Lebih lanjut , kuantitas barang itu faktor pengali untuk harga-harga
barang yang indeksnya akan kita hitung. Cara tersebut kita pakai nih untuk
mencari tahu perubahan harga. Anggapan yang mendasari metode ini ialah
kuantitas (jumlah) barang tidak berubah dari tahun ke tahun sejak tahun dasar.
Laspeyres pernah bilang begini, “Secara kuantitatif kebutuhan itu jumlahnya
tidak berubah.”
b.
Metode Paasche
Metode ini memakai
jumlah/kuantitas barang pada tahun yang berjalan atau tahun yang dipakai
sebagai timbangan terhadap harga. Dalam metode Paasche ini mengasumsikan bahwa
jumlah barang itu bisa mengalami perubahan dari tahun ke tahun.
c.
Metode Marshall Edgeworth
Metode ini
menghitung dengan cara menggabungkan jumlah tahun dasar dengan jumlah tahun
berjalan. Nah, habis itu langsung dikalikan dengan harga pada tahun dasar atau
harga pada tahun berjalan.
4. Indeks
LQ 45
Indeks yang terdiri dari 45 saham pilihan
berdasarkan likuiditas perdagangan dan kapitalisasi pasar, sehingga setiap 6
bulan saham yang masuk indeks ini bisa berubah-rubah tergantung kedua variable
tersebut.
5. Indeks
Review and Stock Replacement
Strategi yang menggunakan instrumen keuangan lain untuk secara efektif menciptakan kembali posisi kepemilikan saham. Ini telah digunakan oleh investor dan pedagang untuk waktu yang sangat lama dan dalam beberapa tahun terakhir ini telah menjadi sangat populer menggunakan opsi. Menggunakan opsi untuk penggantian saham sangat sederhana, dan ini menawarkan beberapa manfaat utama yang berkaitan dengan leverage. Ada juga manfaat yang berkaitan dengan lindung nilai, meskipun hal ini membuat strateginya menjadi lebih kompleks. Kami telah menjelaskan lebih lanjut tentang strategi ini .
6. Advisory Comission
Index Advisory adalah pelopor dalam
mengembangkan alat tes psikometri untuk digunakan secara efektif di berbagai
bidang non-tradisional. Ini adalah salah satu perusahaan India pertama yang
mengembangkan tes psikometri dalam bisnis peminjaman untuk memprediksi
kelayakan kredit peminjam. Tes ini banyak digunakan saat ini oleh bank dan NBFC
untuk membantu keputusan kredit mereka. Melalui penelitian berkelanjutan, Index
Advisory bekerja untuk membuat alat mereka lebih kuat. Tes mereka tidak hanya
dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan klien mereka, tetapi juga
mengkhususkan diri dalam menyediakan menu format tes untuk dipilih. Tes ini
dirancang untuk mengukur banyak parameter dan tersedia dalam sebagian besar
bahasa India, sesuai dengan nuansa keragaman budaya dan regional.
7. Perhitungan
Angka Indeks Harga Saham
Indeks
harga saham merupakan angka yang tersusun dengan hitungan tertentu sehingga
menghasilkan trend. Sedangkan angka indeks itu sendiri dibuat untuk
membandingkan perubahan harga saham dari masa ke masa.
Dengan demikian, untuk bisa menemukan
angka indeks harus tersedia data lebih dari satu karena harus ditentukan waktu
dasar dan waktu yang berlaku.
Indeks harga saham menggunakan rumus umum:
IHS = (Ht / H0) X 100%
IHS: Indeks
Harga Saham
Ht : Harga pada waktu yang berlaku
H0 : Harga pada
waktu dasar
Dari
sinilah Anda bisa mulai membaca situasi pasar untuk mendukung keberhasilan
investasi Anda. Namun ada persoalan yang harus dipecahkan, yaitu mengenai
waktu dasar. Merupakan masalah utama
dalam menyusun angka indeks.
Sebab,
bila Anda memilih waktu dasar pada saat pasar sedang dalam keadaan bergairah, bukan
tidak mungkin Anda akan menemukan indeks harga yang terus menurun pada
waktu-waktu selanjutnya. Demikian pula sebaliknya, bila Anda menentukan waktu
pada saat pasar lesu, maka waktu-waktu selanjutnya indeks harga saham akan
terus menunjukkan peningkatan. Karena itu, mungkin memilih waktu dasar pada
saat tidak terjadi gejolak (stabil).


👍🏻👌🏻
BalasHapus